MAKALAH PENDIDIKAN
KEWARGANEGARAAN
Di Susun Oleh :
Nama
:
Mucharraran Al Abrar
NPM : 14415332
Jurusan
: Teknik Elektro
Kelas : 2IB04
BAB 1
PENDAHULUAN
1.1 LATAR BELAKANG
Dalam kehidupan berbangsa dan bernegara keanekaragaman (pendapat,
kepercayaan, hubungan, dsb) memerlukan suatu perekat agar bangsa yang
bersangkutan dapat bersatu guna memelihara keutuhan negaranya.
Suatu bangsa dalam menyelenggarakan kehidupannya tidak terlepas dari pengaruh lingkungannya, yang didasarkan atas hubungan timbal balik atau kait-mengait antara filosofi bangsa, ideologi, aspirasi, dan cita-cita yang dihadapkan pada kondisi sosial masyarakat, budaya dan tradisi, keadaan alam dan wilayah serta pengalaman sejarah.
Upaya pemerintah dan rakyat menyelenggarakan kehidupannya, memerlukan suatu konsepsi yang berupa Wawasan Nasional yang dimaksudkan untuk menjamin kelangsungan hidup, keutuhan wilayah serta jati diri.
Suatu bangsa dalam menyelenggarakan kehidupannya tidak terlepas dari pengaruh lingkungannya, yang didasarkan atas hubungan timbal balik atau kait-mengait antara filosofi bangsa, ideologi, aspirasi, dan cita-cita yang dihadapkan pada kondisi sosial masyarakat, budaya dan tradisi, keadaan alam dan wilayah serta pengalaman sejarah.
Upaya pemerintah dan rakyat menyelenggarakan kehidupannya, memerlukan suatu konsepsi yang berupa Wawasan Nasional yang dimaksudkan untuk menjamin kelangsungan hidup, keutuhan wilayah serta jati diri.
Kata wawasan berasal
dari bahasa Jawa yaitu wawas (mawas) yang artinya melihat atau memandang, jadi
kata wawasan dapat diartikan cara pandang atau cara melihat.
Kehidupan negara senantiasa dipengaruhi perkembangan lingkungan strategik sehingga wawasan harus mampu memberi inspirasi pada suatu bangsa dalam menghadapi berbagai hambatan dan tantangan yang ditimbulkan dalam mengejar kejayaannya.
Dalam mewujudkan aspirasi dan perjuangan ada tiga faktor penentu utama yang harus diperhatikan oleh suatu bangsa :
1. Bumi/ruang dimana bangsa itu hidup
2. Jiwa, tekad dan semangat manusia/rakyat
3. Lingkungan
Kehidupan negara senantiasa dipengaruhi perkembangan lingkungan strategik sehingga wawasan harus mampu memberi inspirasi pada suatu bangsa dalam menghadapi berbagai hambatan dan tantangan yang ditimbulkan dalam mengejar kejayaannya.
Dalam mewujudkan aspirasi dan perjuangan ada tiga faktor penentu utama yang harus diperhatikan oleh suatu bangsa :
1. Bumi/ruang dimana bangsa itu hidup
2. Jiwa, tekad dan semangat manusia/rakyat
3. Lingkungan
1.2 RUMUSAN MASALAH
1. Apa itu wawasan
nasional.
2. Apa yang dimaksud
teori-teori paham kekuasaan;
3. Apa yang dimaksud
teori-teori geopolitik;
4. Bagaimana latar belakang
pemikiran wawasan nasional Indonesia;
5. Apa itu konsepsi Wawasan
Nusantara;
6. Apa fungsi Wawasan
Nusantara.
1.3 TUJUAN
1. Mengetahui pengertian
wawasan nasional;
2. Menjelaskan teori-teori
paham kekuasaan;
3. Menguraikan teori-teori
geopolitik;
4. Memahami latar belakang
pemikiran wawasan nasional Indonesia;
5. Mengetahui konsepsi
Wawasan Nusantara;
6. Memahami fungsi Wawasan
Nusantara.
1.4 MANFAAT
1. Pembaca mampu mengerti
tentang pengertian wawasan nasional.
2. Pembaca menjadi tau apa
saja teori-teori paham kekuasaan.
3. Pembaca menjadi tahu
tentang teori-teori geopolitik.
4. Pembaca mampu memahami
latar belakang pemikiran wawasan nasional Indonesia.
5. Pembaca menjadi
mengetahui konsepsi Wawasan Nusantara.
6. Pembaca mampu memahami
fungsi Wawasan Nusantara.
BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Pengertian Wawasan Nasional
Kebenaran
tertinggi hanyalah yang berasal dari Causa Prima, yakni kebenaran yang berasal
dari Tuhan. Tuhan menciptakan manusia sebagai makhluk yang sempurna dan
sekaligus terbatas. Selain itu Tuhan menciptakan manusia dengan kemampuan yang
berbeda-beda. Dengan perbedaan kemampuan dan lingkunganya telah membuat cara
pandang yang berbeda-beda pula. Keberagaman dalam suatu Negara sangat
membutuhkan perekat. Perekat itu adalah berupa wawasan nasional.
Adapun wawasan
nasional itu sendiri merupakan cara pandang suatu bangsa tentang diri dan
lingkungannya dalam ekstensinya berhadapan dengan lingkungan nasional, regional
serta global. Adapun unsure-unsur yang terkandung dalam wawasan nasional suatu
Negara adalah terletak pada paham kekuasaan dan geopolitiknya. Paham kekuasaan
dapat diterjemahkan sebagai pemikiran mengenai sejauh mana konsep operasional
dapat diwujudkan dan dipertanggungjawabkan, sedangkan geopolitik adalah geografi
politik suatu Negara mengenai potensi yang dimiliki oleh suatu bangsa atas
dasar jati dirinya dan kemampuan ketahanan nasionalnya. Sementara untuk wawasan
nasional bangsa Indonesia adalah Wawasan Nusantara.
Pada masa
sekarang dengan tingkat teknologi yang semakin berkembang bahkan bisa dibilang
canggih, setiap orang yang memanfaatkan teknologi dapat dengan cepat memperluas
cakrawala pengetahuan demi menambah wawasanya tentang hampir setiap hal yang
ingin diketahuinya.
Semakin hari segala
yang ada, semakin menipiskan ozon, dan akan menimbulkan akibat yang akan
merugikan. Jarak sepertinya tidak lagi menjadi halangan untuk berkomunikasi,
dulu yang berjalan kaki atau naik pedati kini berganti dengan naik jet pribadi,
dulu mendengar siaran radio kini internet, dulu sibuk mengantri di loket untuk
membeli tiket kini cukup pesan di penjualan online, yang bisa di pesan lewat
internet atau gadget yang kita punyai, dulu udara sejuk kini menghangat.
Fenomena itu
akan dirasakan terus sampai saat ini, setiap perkembangan yang pada dasarnya
berasal dari Negara maju kini dapat dinikmati oleh generasi muda-tua bahkan
anak-anak, namun hal yang perlu dicermati dalam bidang ini adalah bangsa ini
tetap tertinggal dengan kemajuan dan perkembangan dalam bidang ilmu pengetahuan
dan teknologi, sekalipun ada berita yang menyampaikan prestasi generasi muda
terkhusus di bidang olimpiade apapun dalam tingkatan internasional tidak kalah
dari Negara lainnya, namun hal ini tak kunjung pula mengejar ketertinggalan
kita di bidang iptek.
Akselerasi
positif yang dinanti dari perkembangan iptek, belum menuai hasil maksimal akan
kemanfaatannya, untuk bertamasya ke bulan saja ilmuan Indonesia belum sanggup,
sementara Negara maju terus dinikmati, bangsa Indonesia saat ini mungkin hanya
bisa mendengar dan menyaksikan lewat televise, dalam tataran praktis, mungkin
menunggu diterbitkanya buku-buku pengetahuan tentang kemajuan iptek tersebut,
sementara bangsa ini masih sibuk belajar membaca bahkan belum selesai, Negara
lain telah pula berencana mengorbitkan buku terbarunya ke Negara-negara
tertinggal atau biasa disebut dengan Negara berkembang.entah sampai kapan
Negara ini terus menghitung kecepatan yang dapat ditempuh untuk mengejar
ketertinggalannya, atau mungkinkah dijadikan pekerjaan rumah bagi generasi muda
Indonesia saat ini.
Akreditasi
terhadap nilai perguruan tinggi yang diharapkan menjadi tumpuan masa depan
bangsa dan Negara ini terkadang belum atau bahkan tidak disertai dengan dasar
yang kokoh sebagai prasyarat penerbit “generasi penerus bangsa”, tawuran antar
mahasiswa antar kampus masih banyak terjadi dan menjadi sorotan tiap
tahunnya, mirisnya lagi hampir tiap negarawan “kawakan” mampu dengan mudahnya
mengatakan Negara ini perlu generasi muda yang berwawasan luas untuk meneruskan
dan melestariakan hasil perjuangan para pendiri bangsa dengan meningkatkan ilmu
dan pengetahuan dan teknologi.
Senyatanya rasa cinta tanah air kian hari kian terkikis,
hasil budaya satu per satu kian hilang “dipinjam” oleh Negara tetangga, pulau
pulau yang sangat indah pun tak luput, warga Negara yang merantau teraniaya dan
dengan susahnya mencari tempat berlindung, jatuhnya pesawat militer ataupun
sipil yang memakan korban nyawa baik prajurit atau korban sipil ini hanyalah
beberapa indikasi yang mensyaratkan bahwa bangsa ini mulai hilang rasa percaya
diri akan karakter dan martabat bangsanya.
Dalam permainan pencaturan politik ada yang mulai aneh di
negeri ini dan mulai dibiasakan atau secara halus dapat dikatakan sudah menjadi
kebiasaan dikalangan elit politik, setiap partai politik dalam masa muda pada
waktu lalu bahkan sampai saat ini dan entah kedepan, pengetahuan “matematika”
dianggap sebagian besar kalangan terpelajar sebagai satu momok yang sebisanya
dihindari bahkan dengan harapan dihilangkan saja pelajaran tentangnya, namun
pemilu menjadi sorotan atau liputan yang sangat diperhitungkan yang menarik
bagi partai politik.
Dimulai dari hitungan sederhana; berapakah target
suara dan kursi yang dapat diperoleh dari partai A, atau partai B, atau partai
C!. Setelah duduk di kursi dewan; berapa kenaikan gaji dan tunjangan yang bisa
diharapkan oleh masing-masing anggota dewan, dan berapakah santunan yang
diberikan kepada partai pendukung, dan berapakah yang bisa “ditabung”.
Sedangkan yang tak “bernasib” untuk duduk di kursi dewan,
maka stress dan bahkan bunuh diri adalah perkara yang dianggap lumrah, akibat
hitung-hitungan modal dan “bunga” yang akan di dapat nantinya. Namun untuk yang
berhasil hal ini akan berbanding terbalik dengan “PR Matematika” yang seharunya
dikerjakan oleh anggota dewan yang harusnya menjadi jawaban bagi ujian mereka
kepada para konstituennya, yakni; berapa harga termurah untuk setiap kebutuhan
pokok yang dapat dijangkau oleh masing-masing konstituen mereka yang berlebel
“rakyat miskin”, berapakah cadangan sumber daya alam yang ada untuk seribu
tahun mendatang, berapa banyak pulaukah yang dapat dijadikan kawasan layak
hunian bagi pentransmigrasian masyarakat, berapakah batas maksimal harga air
bersih, berapa harikah dapat terlunaskan hutang-hutang Negara saat ini, berapa
banyakkah oksigen-oksigen yang hilang dari runtuhnya pepohonan dalam hutan yang
seharusnya dapat menyejukkan pernafasan, berapa lama lagikah lebel “rakyat
miskin” berganti dengan kemakmuran rakyat.
Kenyataan telah menunjukkan, pola-pola kearifan budaya
local yang didengungkan sebagai kekayaan bangsa kian tersingkir, tereliminasi
oleh pola budaya luar, hanya dijadikan objek pariwisata yang semata bertujuan
untuk meningkatkan devisa Negara. Wisatawan Negara lain cenderung dating dan
mengamati dan menyaksikan, bahkan menelitinya, sementara bangsa kita sendiri
cenderung mengikuti pola budaya mereka, seperti orang awam bilang “dunia sudah
terbalik”. Kekayaan alam baik sumber daya alam maupun objek wisata alam digerus
habis-habisan, budaya-budaya lokal dipertontonkan untuk menyambut wisatawan,
namun tak pernah terpikir untuk melestariakannya dalam praktik ketatanegaraan.
Jika hendak disimpulkan, apakah pancasila kini sudah
tidak lagi dipakai dalam melaksanakan fungsinya untuk memfilterisasi dan
menegakkan kekokohan rumah tangga Negara. Atau hanya cukup sekedar di pajang di
kantor-kantor pemerintahan, atau di dinding-dinding sekolahan yang akan
dibersihkan jika sudah ada jarring-jaring laba-laba sampai bersarang disitu
atau sesempatnya saja. Keterbelengguan ini akan tetap saja demikian bila tetap
tidak diputuskan, bila sikap tidak mau tau menjadi pilihan untuk satu prinsip
hidup bahwa, “bila pedang keadilan tidak lagi terasah, bila kedamaian terkesampingkan,
bila kemerdekaan tidak lagi menjadi pilihan”.
Dengan bersikap acuh, maka sifat individualis kian
menjadi dan yang sangat mencolok yang perlu dicermati saat ini adalah terletak
pada sebagian atau pada tiap-tiap orang yang mulai mencari versi kedamaianya
sendiri, kedamaian pribadi, namun tanpa sadar telah terjajah oleh
keindividualisannya itu.
Banyak orang pintar yang ada di negeri ini, namun sedikit
yang menciptakan peluang, banyak orang yang pingin mengabdi bagi negeri ini
namun masih ada berapa banyakkah “patriot bangsa” dalam tiap bidang pengabdian
yang diperankanya dengan prinsip “patah tumbuh hilang berganti”.
2.2 Teori-teori Paham Kekuasaan
Terdapat banyak pandangan yang terwujud dalam suatu teori
dari banyak ahli mengenai bagaiman konsep operasional dapat diwujudkan untuk
memperoleh ataupun mempertahankan kekuasaan suatu Negara. Menurut Machiavelli,
kekuasaan suatu Negara dapat saja dicapai apabila dilakukan dengan menghalalkan
segala cara untuk merebutnya. Cara utama yang harus dilakukan adalah dengan
menerapkan politik pecah belah. Kemudian pihak yang kuat tentulah yang akan
tetap bertahan. Sementara bagi Napoleon Bonaparte, kekuasaan suatu Negara dapat
dicapai apabila didukung oleh militer yang kuat, logistik, dan ekonomi yang
kuat serta didukung pula dengan penguasaan dibidang ilmu pengetahuan dan
teknologi. Sedangkan kalau menurut Clausewitz, satu-satunya cara untuk
memperoleh ataupun memperluas kekuasaan yakni dengan melakukan peperangan.
Sedangkan bagi Feurbach dan Hagel, kekuasaan suatu Negara dapat direbut
kalau didukung oleh surplus ekonomi Negara tersebut.
2.3 Teori-teori Geopolitik
Banyak batasan dan pengertian yang diberikan pada
geopolitik. Dari berbagai definisi atau pengertian tersebut paling tidak
terdapat kandungan empat unsure yang terpadu dalam satu pengertian, yaitu:
1. Geografi;
2. Politik;
3. Hubungan antara geografi
dan politik;
4. Penggunaannya bagi
kepentingan Negara dan bangsa.
Ratzel mengemukakan bahwa geopolitik merupakan kekuatan
total suatu Negara untuk mewadahi pertumbuhan kondisi dan kedudukan
geografinya. Jadi secara sederhana geopolitik td bisa didefinisikan sebagai,
“ilmu yang mempelajari tentang potensi, yang dimiliki oleh suatu bangsa atas
dasar jati dirinya dan merupakan kekuatan serta kemampuan untuk ketahanan
nasional”.
Pengertian geopilitik secara lebih nyata barulah dapat
terlihat dari penerapannya, yang ternyata mempunyai ruang lingkup yang luas
sebagai lanjutan dari “geografi politik”. Sedangkan geografi politik sendiri
mengandung pengertian sebagai ilmu yang mempelajari hubungan antara kekuatan
politik serta geografi dengan tuntutan perkembangan atau pertumbuhan Negara.
Dari pengertian ini dapat disimpulkan bahwa geopolitik adalah penerapan
geografi politik ke dalam praktik politik Negara.
Teori-teori geopolitik terus berkembang sesuai dengan
sejarah dan tingkat kemajuan manusia dan bangsa-bangsa. Secara garis besar maka
teori-teori itu dapat dirangkum dan di kelompokkan ke dalam teori-teori dasa
geopolitik yang meliputi:
2.4 Landasan Wawasan Nusantara
Wasantara merupakan
pengejawantahan falsafah Pancasila dan UUD 1945 dalam konsep kebangsaan.
Kelengkapan dan keutuhan pelaksanaan wasantara akan terwujud dalam
terselenggaranya ketahanan nasional Indonesia yang senantiasa harus
ditingkatkan sesuai dengan kemanjuan zaman (modern—post modern). Ketahanan
nasional itu akan dapat meningkat jika ada pembangunan yang meningkat dalam
"koridor" Wasantara.
1. Landasan idiil: Pancasila
Pancasila telah diakui sebagai ideology dan dasar
negara yang terumuskan dalam Pembukaan UUD 1945. Pada hakikatnya, Pancasila
mencerminkan nilai keseimbangan, keserasian, keselarasan, persatuan dan
kesatuan, kekeluargaan, kebersamaan dan kearifan dalam membina kehidupan
nasional. Perpaduan nilai-nilai tersebut mampu mewadahi kebinekaan seluruh
aspirasi bangsa Indonesia.
2. Landasan konstitusional : UUD 1945
UUD 1945 merupakan konstitusi dalam kehidupan
bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara. Wujudnya antara lain dalam bentuk
negara kesatuan serta penguasaan oleh negara atas bumi, air, dan dirgantara.
2.5 Unsur Dasar Konsepsi Wawasan Nusantara
Unsur dasar konsepsi
wawasan nusantara terdiri dari wadah, isi, dan tata laku.
a. Wadah (contour)
Wadah kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan
bernegara meliputi seluruh wilayah Indonesia yang memiliki sifat serba
nusantara dengan kekayaan alam dan penduduk serta aneka ragam budaya ialah
bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia.
b. Isi (content)
Isi adalah aspirasi bangsa yang berkembang di
masyarakat dan cita-cita serta tujuan nasional yang terdapat dalam Pembukaan
UUD 1945. Untuk mencapai aspirasi yang berkembang di masyarakat maupun
cita-cita dan tujuan nasional seperti tersebut di atas, bangsa Indonesia harus
mampu menciptakan persatuan dan kesatuan dalam kebhinekaan dalam kehidupan
nasional. Isi menyangkut dua hal yang esensial, yaitu:
- Realisasi aspirasi bangsa sebagai kesepakatan
bersama serta pencapaian cita-cita dan tujuan nasional
- Persatuan dan kesatuan dalam kebinekaan yang
meliputi semua aspek kehidupan nasional.
c. Tata laku (conduct)
Tata laku merupakan hasil interaksi antara wadah
da nisi, yang terdiri dari tata laku batiniah dan lahiriah. Tata laku batiniah
mencerminkan jiwa, semangat, dan mentalitas yang baik dari bangsa Indonesia,
sedangkan tata laku lahiriah tercermin dalam tindakan, perbuatan, dan perilaku
dari bangsa Indonesia. Kedua hal tersebut akan mencerminkan identitas jati diri
atau kepribadian bangsa Indonesia berdasarkan kekeluargaan dan kebersamaan yang
memiliki rasa bangga dan cinta kepada bangsa dan tanah air sehingga menimbulkan
nasionalisme yang tinggi dalam semua aspek kehidupan nasional.
2.6 Hakikat Wawasan Nusantara
Hakikat wawasan nusantara
adalah keutuhan nusantara, dalam pengertian: cara pandang yang selalu utuh
menyeluruh dalam lingkup nusantara demi kepentingan nasional. Hal tersebut
berarti bahwa setiap warga bangsa dan aparatur negara harus berpikir, bersikap,
dan bertindak secara utuh menyeluruh demi kepentingan bangsa dan negara
Indonesia. Demikian juga produk yang dihasilkan oleh lembaga negara harus dalam
lingkup dan demi kepentingan bangsa dan negara Indonesia, tanpa menghilangkan
kepentingan lainnya, seperti kepentingan daerah, golongan, dan orang per orang.
BAB III
PENUTUP
Kesimpulan
Dari pembahasan di atas kita dapat menyimpulkan secara umum wawasan nusantara
adalah keutuhan nusantara atau nasional, dalam pengertiannya yaitu cara
pandang secara menyeluruh dalam lingkup nusantara dan demi kepentingan
nasional. Unsur – unsur yang terkandung dalam wawasan nusantara atau nasional
suatu negara adalah terletak pada paham kekuasaan dan geopolitiknya. Paham
kekuasaan sebagai pemikiran mengenai sejauh mana konsep operasional dapat
diwujudkan dan dipertanggung jawabkan. Sedangkan untuk geopolitiknya yaitu
mengenai potensi yang dimiliki oleh suatu bangsa atas dasar jati dirinya dan
kemampuan ketahanan nasionalnya. Wawasan Nusantara
berfungsi dan mampu memberikan pedoman, arah dan tuntunan bagi perjuangan untuk
mencapai tujuan nasional.
DAFTAR PUSTAKA
Suryana, Achmad.
2004. Kemandirian Pangan Menuju
Ketahanan Pangan Berkelanjutan. Jakarta:
Erwin, Muhamad. 2001. Pendidikan Kewarganegaraan Republik
Indonesia. Bandung: PT Rafika Aditam
Tidak ada komentar:
Posting Komentar