Pertentangan Sosial dan Integrasi
Sosial
Kata Pengantar
Segala puji bagi Allah SWT yang telah dan sampai sekarang
masih memberikan nikmat Islam dan iman kepada setiap muslim. Shalawat dan salam
kami haturkan kepada Rasulullah SAW yang merelakan darah dan keringatnya demi
bejuang menegakkan kalimat laa ilaaha
illallaah sehingga kita dapat menikmati hidup dalam ilmu pengetahuan dan
jalan yang benar.
Setelah berdiskusi dan mencari bahan dalam internet dan
buku-buku di perpustakaan STAIN Zawiyah Cot Kala Langsa, akhirnya kami dapat menyelesaikan
makalah ini pada waktu yang ditentukan. Terdapat beberapa masalah yang timbul
dalam proses pembuatan makalah ini dapat kami tuntaskan berkat teman-teman.
Untuk itu kami berterima kasih kepada pihak-pihak yang telah sukarela membantu
kami dalam menyelesaikan makalah ini.
Kami berharap semoga makalah ini nantinya bukan hanya
berguna sebagai pemenuhan tugas kuliah, akan tetapi juga berguna bagi bapak
dosen dan teman-teman serta pihak-pihak yang membutuhkannya. Dari usaha kami
melalui makalah ini, kami juga berharap mendapatkan nilai yang memuaskan dari
dosen pengasuh.
Demikianlah makalah ini kami buat dengan seksama. Assalamu’alaikum warahmatullaahi
wabarakaatuh.
Bab I
Pendahuluan
A. Latar
Belakang
Kebutuhan merupakan suatu awal dari
tingkah laku Individu. Individu itu sendiri bertingkah laku karena adanya
motivasi untuk memenuhi kepentingan dan kebutuhannya. Kebutuhan dan kepentingan
tersebut sifatnya esensial bagi individu itu sendiri. Jika kebutuhan dan kepentingan
itu terpenuhi maka ia akan merasa puas, namun juga sebaliknya, apabila
pemenuhan kebutuhan dan kepentingan itu gagal maka akan menimbulkan suatu
masalah bagi dirinya pribadi serta lingkungannya.
Dengan berpegang pada prinsip bahwa
tingkah laku individu merupakan cara atau di dalam masyarakat pada hakekatnya
merupakan manifestasi pemenuhan dari kepentingan itu sendiri.
Pada umumnya secara psikologis
dikenal ada dua jenis kepentingan dalam diri individu yaitu kepentingan untuk
memenuhi kebutuhan biologis dan kebutuhan sosial/psikologis.
Oleh karena itu individu mengandung
arti bahwa tidak ada dua orang individu yang sama persis di dalam aspek-aspek
pribadinya, baik jasmani maupun rohani, maka dengan sendirinya timbul perbedaan
individu dalam hal kepentingannya. Perbedaan-perbedaan tersebut secara garis
besar disebabkan oleh 2 faktor, yaitu faktor pembawaan dan faktor lingkungan
sosial sebagai komponen utama bagi terbentuknya keunikan individu. Perbedaan
pembawaan akan memungkinkan perbedaan individu dalam hal kepentingannya
meskipun dengan lingkungan yang sama. Sebaliknya lingkungan yang berbeda akan
memungkinkan timbulnya perbedaan individu dalam hal kepentingan meskipun
pembawaannya sama.
B. Rumusan
Masalah
1.
Apa yang menyebabkan terjadinya
pertentangan sosial ?
2.
Apa yang menyebakan timbulnya
prasangka sosial dan diskriminasi sosial serta apa saja usaha yang dapat
menguranginya ?
Bab II
Pembahasan
1. Terjadinya
Pertentangan Sosial
Hidup bermasyarakat yaitu sebuah
hubungan antar individu-individu maupun antar kelompok dan golongan yang
terjadi dalam proses kehidupan. Hidup bermasyarakat juga berarti kehidupan
dinamis, dimana setiap anggota masyarakat salaing berinteraksi. Hubungan antar
individu ini pun diikat oleh ikatan yang berupa norma serta nilai-nilai yang
telah dibuat bersama para anggota. Norma dan nilai-nilai inilah yang menjadi
alat pengendali agar para anggota masyarakat tidak terlepas dari rel ketentuan
yang telah disepakati itu. Solidaritas, toleransi dan tenggang rasa adalah
bukti kuatnya ikatan itu. Sakit salah satu anggota masyarakat akan dirasakan
oleh anggota masyarakat lainnya. Dari hubungan seperti itulah lahir
keharmonisan dalam hidup bermasyarakat.
Pada kenyataannya tidak semua
masyarakat membentuk sebuah harmonisasi. Pada kondisi-kondisi tertentu hubungan
antara masyarakat diwarnai berbagai persamaan. Namun sering juga didapati
perbedaan-perbedaan, bahkan pertentangan dalam masyarakat. Hal-hal seperti
itulah yang menimbulkan perpecahan dalam masyarakat. Salah satu contohnya
adalah pertentangan sosial.
Pertentangan sosial adalah suatu
konflik yang terjadi didalam suatu lingkungan masyarakat. Dimana ada suatu
kelompok yang tidak menyukai kelompok lain, sehingga menimbulkan suatu
perselisihan diantara mereka. Banyak sekali pertentangan sosial yang terjadi di
dunia ini. Seperti contohnya perak Irak, dan kalau menelusuri Indonesia
contohnya GAM (Gerakan Aceh Merdeka).
Adapun Faktor-faktor yang
mempengaruhi terjadinya pertentangan sosial:
a. Rasa Iri antara individu,negara, dan
masyarakat
b. Adanya rasa tidak puas masyarakat
terhadap kepemerintahan
c. Banyak adu domba antara
politik,agama,suku serta budaya
Integrasi Masyarakat
Integrasi berasal dari bahasa inggris “integration” yang berarti
kesempurnaan atau keseluruhan. Integrasi sosial dimaknai sebagai proses
penyesuaian di antara unsur-unsur yang saling berbeda dalam kehidupan
masyarakat sehingga menghasilkan pola kehidupan masyarakat yang memilki
keserasian fungsi.
Definisi lain mengenai integrasi adalah suatu keadaan di
mana kelompok-kelompok etnik beradaptasi terhadap kebudayaan mayoritas
masyarakat, namun masih tetap mempertahankan kebudayaan mereka masing-masing.
Integrasi memiliki 2 pengertian, yaitu :
a. Pengendalian terhadap konflik dan
penyimpangan sosial dalam suatu sistem sosial tertentu.
b. Membuat suatu keseluruhan dan
menyatukan unsur-unsur tertentu.
Sedangkan yang disebut integrasi sosial adalah jika yang
dikendalikan, disatukan, atau dikaitkan satu sama lain itu adalah unsur-unsur
sosial atau kemasyarakatan.
Suatu integrasi sosial di perlukan agar masyarakat tidak
bubar meskipun menghadapi berbagai tantangan, baik merupa tantangan fisik
maupun konflik yang terjadi secara sosial budaya. Menurut pandangan para ahli,
struktur sistem sosial senantiasa terintegrasi di atas dua landasan berikut :
Suatu masyarakat senantiasa terintegrasi di atas tumbuhnya
konsesus (kesepakatan) di antara sebagian besar anggota masyarakat tentang
nilai-nilai kemasyarakatan yang bersifat fundamental (mendasar). Masyarakat
terintegrasi karena berbagai anggota masyarakat sekaligus menjadi anggota dari
berbagai kesatuan sosial. Integrasi sosial akan terbentuk apabila sebagian
besar masyarakat mmiliki kesepakatan tentang batas-batas teritorial,
nilai-nilai, norma-norma, dan pranata-pranata sosial.
2. Prasangka
dan Diskriminasi Sosial
Prasangka dan diskriminasi dua hal yang ada relevansinya.
Kedua tindakan tersebut dapat merugikan pertumbuhan, perkembangan, dan bahkan
integrasi masyarakat. Kerugian prasangka melalui hubungan pribadi dan akan
menjalar bahkan melembaga (turun-temurun). Jadi prasangka dasarnya pribadi dan
dimiliki bersama. Perbedaan antara prasangka dan diskriminatif adalah prasangka
menunjukkan pada aspek sikap, sedangkan diskriminatif pada tindakan. Sikap
adalah kecenderungan untuk berespons baik secara positif atau negatif terhadap
orang, obyek atau situasi.
Dalam konteks realitas, prasangka diartikan: “Suatu sikap
terhadap anggota kelompok etnis atau ras tertentu, yang terbentuk terlalu cepat
tanpa suatu induksi. Diskriminatif merupakan tindakan yang realistis”. Dapat
disimpulkan bahwa prasangka itu muncul sebagai akibat kurangnya pengetahuan,
pengertian dan fakta kehidupan, adanya dominasi kepentingan golongan atau pribadi,
dan tidak menyadari atau insyaf akan kerugian yang bakal terjadi. Tingkat
prasangka itu menumbuhkan jarak sosial tertentu di antara anggota sendiri
dengan anggota kelompok luar.
Sebab-sebab terjadinya prasangka:
a. Pendekatan Historis
Pendekatan ini berdasarkan teori pertentangan kelas,
menyalahkan kelas rendah di mana mereka yang tergolong kelas atas mempunyai
alasan untuk berprasangka terhadap kelas rendah
b. Pendekatan Sosiokultural dan
Situasional
1.
Mobilitas sosial: gerak perpindahan dari strata satu ke strata sosial lainnya.
Artinya kelompok orang yang mengalami penurunan status akan terus mencari
alasan mengenai nasib buruknya.
2.
Konflik antara kelompok: prasangka sebagai realitas dari dua kelompok yang
bersaing.
3.
Stagma perkantoran: ketidakamanan atau ketidakpastian di kota disebabkan oleh
“noda” yang dilakukan oleh kelompok tertentu.
4.
Sosialisasi: prasangka muncul sebagai hasil dari proses pendidikan, melalui
proses sosialisasi mulai kecil hingga dewasa.
c. Pendekatan Kepribadian
Teori ini menekankan pada faktor kepribadian sebagai
penyebab prasangka, disebut dengan frustasi agresi. Menurut teori ini keadaan
frustasi merupakan kondisi yang cukup untuk timbulnya tingkah laku agresif.
d. Pendekatan Fenomenologis
Pendekatan ini ditekankan pada bagian individu memandang
atau mempersepsikan lingkungannya, sehingga persepsilah yang menyebabkan
prasangka.
e. Pendekatan Naive
Bahwa prasangka lebih menyoroti obyek prasangka tidak menyoroti
individu yang berprasangka.
Prasangka bisa diartikan sebagai suatu sikap yang terlampau
tergesa-gesa berdasarkan generalisasi yang terlampau cepat, sifat berat sebelah
dan dibarengi proses simplifikasi (terlalu menyederhanakan terhadap suatu
realita). Sikap berprasangka jelas tidak adil, sebab sikap yang diambil hanya
berdasarkan pada pengalaman atau apa yang di dengar.
Usaha-usaha untuk mengurangi
prasangka dan diskriminasi sosial
a.
Mempertebal
keyakinan seluruh warga Negara Indonesia terhadap Ideologi Nasional
b.
Membuka
isolasi antar berbagai kelompok etnis dan antar daerah/pulau dengan membangun
saran komunikasi, informasi, dan transformasi
c.
Menggali
kebudayaan daerah untuk menjadi kebudayaan nasional
d.
Membentuk jaringan
asimilasi bagi kelompok etnis baik pribumi atau keturunan asing
e.
Perbaikan
kondisi sosial ekonomi.
f.
Perluasan
kesempatan belajar.
g.
Sikap
terbuka dan sikap lapang.
Bab III
Penutup
Kesimpulan
Pertentangan sosial adalah suatu konflik yang terjadi
didalam suatu lingkungan masyarakat. Dimana ada suatu kelompok yang tidak
menyukai kelompok lain, sehingga menimbulkan suatu perselisihan diantara
mereka.
Adapun Faktor-faktor yang
mempengaruhi terjadinya pertentangan sosial:
a. Rasa Iri antara individu,negara, dan
masyarakat
b. Adanya rasa tidak puas masyarakat
terhadap kepemerintahan
c. Banyak adu domba antara
politik,agama,suku serta budaya.
Integrasi adalah suatu keadaan di mana kelompok-kelompok
etnik beradaptasi terhadap kebudayaan mayoritas masyarakat, namun masih tetap
mempertahankan kebudayaan mereka masing-masing.
Prasangka bisa diartikan sebagai suatu sikap yang terlampau
tergesa-gesa berdasarkan generalisasi yang terlampau cepat, sifat berat sebelah
dan dibarengi proses simplifikasi (terlalu menyederhanakan terhadap suatu
realita).
Sebab-sebab terjadinya prasangka:
a. Pendekatan Historis
b. Pendekatan Sosiokultural dan
Situasional
c. Pendekatan Kepribadian
d. Pendekatan Fenomenologis
e. Pendekatan Naive.
Daftar Pustaka
Tidak ada komentar:
Posting Komentar